BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Artemia merupakan pakan alami yang banyak
digunakan dalam usaha pembenihan ikan dan udang, karena kandungan
nutrisinya baik. Akan tetapi di perairan Indonesia tidak atau belum
ditemukan Artemia, sehingga sampai saat ini Indonesia masih mengimpor
Artemia sebanyak 50 ton/ tahun, dimana harganya dalam bentuk kista/
telur antara Rp 400.000 – 500.000/ kg (Suara Merdeka, 2002). Walaupun
pakan buatan dalam berbagai jenis telah berhasil dikembangkan dan cukup
tersedia untuk larva ikan dan udang, namun Artemia masih tetap merupakan
bagian yang esensial sebagai pakan larva ikan dan udang diunit
pembenihan. Keberhasilan pembenihan ikan bandeng, kakap dan kerapu juga
memerlukaan ketersediaan Artemia sebagai pakan alami esensialnya, serta
dengan adanya kenyataan bahwa kebutuhan Artemia untuk larva ikan kakap
dan kerapu 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan larva udang, maka
kebutuhan cyste Artemia pada tahun-tahun mendatang akan semakin
meningkat (Raymakers dalam Yunus, dkk., 1994).
Secara umum terdapat dua alasan mengapa
penggunaan pakan hidup alami sepertihalnya Artemia lebih mengutungkan
dibandingkan pakan buatan (pellet, dll) dalam pemeliharaan larva-larva
hewan air (ikan dan crustacean), yaitu : 1. Buruknya kualitas air
mengakibatkan disintegrasi micropelet yang biasanya pemberian pakan
tersebut cenderung berlebihan dengan tujuan pertumbuhan yang sempurna.
2. Tingginya tingkat mortalitas, mengakibatkan malnutrisi dan atau
penyerapan komponen-komponen nutrisi pakan pellet yang tidak komplit(http://www.aquafauna.com/, 2004).
Cyste Artemia yang dibutuhkan sebagian
besar masih diimpor, umumnya dari Amerika Serikat dan hanya sebagian
dari China (Yap et.al. dalam Yunus, dkk., 1994). Tetapi kebanyakan cyste
impor yang ada di Indonesia kualitasnya masih rendah. Sehingga
menyebabkan produksi yang beragam dan kematian masal larva udang. Untuk
itu ditempuh jalan untuk dapat membudidayakan Artemia di tambak secara
lokal. Dari hasil budidaya Artemia secara lokal ini diperoleh beberapa
keuntungan yaitu waktu transportasi dan penyimpanan lebih singkat,
pengawasan kualitas pada proses produksi dan pengawasan terhadap
pengelolaan lingkungan tambak budidaya mengarah pada produksi cyste
Artemia lokal yang berkualitas dan aman. Lebih jauh lagi, produksi
Artemia lokal dapat menunjang penghematan devisa melalui subtitusi
impor.
Jenis pakan secara umum yang dapat
dikonsumsi oleh ikan terdiri atas 2 jenis, yakni pakan alami dan pakan
buatan. Pakan alami adalah jasad-jasad hidup yang biasanya dari jenis
plankton baik fito maupun zooplankton yang sengaja dibudidayakan untuk
diberikan kepada ikan sesuai dengan kebutuhannya. Ketersediaan pakan
alami merupakan faktor yang berperan penting dalam mata rantai budidaya
ikan terutama pada fase benih. Kepentingan pakan alami sebagai sumber
makanan ikan dapat dilihat antara lain:
- nilai nutrisinya yang relatif tinggi,
- mudah dibudidayakan,
- memiliki ukuran yang relatif sesuai dengan bukaan mulut ikan terutama pada stadia benih,
- memiliki pergerakan yang memberikan rangsangan pada ikan untuk memangsanya,
- memiliki kemampuan berkembangbiak dengan cepat dalam waktu yang relative singkat, sehingga ketersediaannya dapat terjamin sepanjang waktu,
- memerlukan biaya usaha yang relativ murah (Priyamboko, 2001).
Jenis pakan alami yang diberikan pada
ikan seharusnya disesuaikan dengan stadia yang berhubungan dengan ukuran
ikan. Dengan demikian maka akan terdapat klasifikasi jenis pakan alami
yang diberikan.
Pakan alami sangat dibutuhkan dunia
pembenihan karena pakan alami dapat bergerak aktif dan sehingga
mengundang larva ikan untuk memakannya. Pada larva, setelah kuning telur
habis perlu diberikan tambahan pakan supaya larva tetap mendapat asupan
nutrisi. Masalah yang dihadapi adalah larva belum biasa mendapatkan
pakan dan bukaan mulut larva masih sangat kecil. Gerakan yang dibuat
pakan alami (contohnya : inforia, Dapnia, Artemia) akan merangsang larva
memakannya dan ukurannya yang kecil cocok dengan bukaan mulut larva.
Artemia merupakan pakan alami yang sangat
penting dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar
dan ikan hias. Ini terjadi karena Artemia memiliki nilai gizi yang
tinggi, serta ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut hampir seluruh
jenis larva ikan. Artemia dapat diterapkan di berbagai pembenihan ikan
dan udang, baik itu air laut, payau maupun tawar.
B. TUJUAN- Diharapkan dapat mengetahui cara-cara penetasan cyste artemia dengan metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi pada artemia sebelum dilakukan pengkulturan.
- Agar dapat mengetahui pengaruh perlakuan dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi terhadap tingkat penetasan kista artemia yang akan di kultur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Biologi dan Daur Hidup ArtemiaKlasifikasi
Artemia atau brine shrimp adalah sejenis
udang-udangan primitive. Menurut Vos and De La Rosa dalam Sambali
(1990); Sorgeloos dan Kulasekarapandian (1987); Cholik dan Daulay
(1985); Tunsutapanich (1979), Artemia termasuk dalam:
Phylum : ArthropodaKlass : Crustacea
Subklass : Branchiopoda
Ordo : Anostraca
Genus : Artemia
Spesies : Artemia sp.
Famili : Artemiidae
Oleh Linnaeus, pada tahun 1778, Artemia
diberi nama Cancer salinus. Kemudian pada tahun 1819 diubah menjadi
Artemia salina oleh Leach. Artemia salina terdapat di Inggris tapi
spesies ini telah punah (Sorgeloos dan Kulasekarapandian, 1987).
Dalam perkembangan dewasa ini, secara
taksonomis nama Artemia salina Leach sudah tidak dapat dipertahankan
lagi. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan
bahwa diantara kelompok-kelompok Artemia terdapat dinding pemisah
perkawinan silang. Dua kelompok Artemia yang tidak dapat melakukan
perkawinan silang dinamakan sibling spesies.
Untuk Artemia hingga saat ini telah ada
20 kelompok yang berkembang biak dengan kawin yang diklasifikasikan ke
dalam beberapa sibling spesies. Disamping itu ada juga jenis Artemia
yang berkembang biak tanpa kawin. Beberapa contoh jenis Artemia antara
lain Artemia fransiscana, A. tunisana, A. urmiana, A. persimilis, A.
monica, A. odessensis, sedangkan yang tanpa kawin Artemia partogenetica
(Mudjiman, 1983). Untuk menghindari kebingungan dalam penamaan, maka
Artemia dinamakan dengan Artemia sp. Saja.
Artemia merupakan dalam pembenihan ikan
laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias air tawar karena
ukurannya yang sangat kecil. Disamping ukurannya yang kecil, nilai gizi
Artemia juga sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva
ikan dan krustacea yang tumbuh dengan sangat cepat. saat Artemia pakan
alami belum dapat digantikan oleh lainnya. Artemia biasanya diperjual
belikan dalam bentuk kista/cyste, yang mudah dan praktis, karena hanya
tinggal menetaskan kista saja. Dapat dilakukan oleh setiap orang. Sebab
membutuhkan suatu keterampilan dan pengetahuan tentang penetasan itu
sendiri. Kegagalan dalam menetaskan kista Artemia barakibat fatal
terhadap larva ikan yang sedang dipelihara. Penetasan Artemia dapat
dilakukan, baik pada skala kecil skala besar. Penetasan Artemia
dikerjakan di daratan maupun di daerah pantai.
a. Telur
Telur Artemia atau cyste berbentuk bulat
berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah.
Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat
(Cholik dan daulay, 1985). Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio
terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultraviolet dan
mempermudah pengapungan (Mudjiman, 1983). Cangkang telur Artemia dibagi
dalam dua bagian yaitu korion (bagian luar) dan kutikula embrionik
(bagian dalam). Diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan ketiga
yang dinamakan selaput kutikuler luar.
Korion dibagi lagi dalam dua bagian yaitu
lapisan yang paling luar yang disebut lapisan peripheral (terdiri dari
selaput luar dan selaput kortikal) dan lapisan alveolar yang berada di
bawahnya. Kutikula embrionik dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu
lapisan fibriosa dibagian atas dan selaput kutikuler dalam di bawahnya.
Selaput ini merupakan selaput penetasan yang membungkus embrio. Diameter
telur Artemia berkisar antara 200 – 300 μ (0.2-0.3 mm). Sedangkan berat
kering berkisar 3.65 μg, yang terdiri dari 2.9 μg embrio dan 0.75 μg
cangkang (Mudjiman, 1983).
b. Larva
Apabila telur-telur Artemia yang kering
direndam dalam air laut dengan suhu 25oC, maka akan menetas dalam waktu
24 – 36 jam. Dari dalam cangkang akan keluar larva yang dikenal dengan
nama nauplius, seperti yang terlihat pada gambar 1. dalam perkembangan
selanjutnya nauplius akan mengalami 15 kali perubahan bentuk. Nauplius
tingkat I = instar I, tingkat II = instar II, tingkat III = instar III,
demikian seterusnya sampai instar XV. Setelah itu nauplius berubah
menjadi Artemia dewasa, seperti yang terlihat pada gambar
Gambar 1. Nauplius dan perubahan bentuknya Gambar 2. Artemia dewasaGambar 3. Siklus hidup Artemia
3. Ekologi
Artemia sp. secara umum tumbuh dengan
baik pada kisaran suhu 25-30 derajat celcius. Kista artemia kering tahan
terhadap suhu -273 hingga 100 derajat celcius. Artemia dapat ditemui di
danau dengan kadar garam tinggi, disebut dengan brain shrimp. Kultur
biomasa artemia yang baik pada kadar garam 30-50 ppt. Untuk artemia yang
mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt
(Kurniastuty dan Isnansetyo, 1995).
Chumaidi et al., (1990) menyatakan bahwa
perkembangbiakan artemia ada dua cara, yakni partenhogenesis dan
biseksual. Pada artemia yang termasuk jenis parthenogenesis populasinya
terdiri dari betina semua yang dapat membentuk telur dan embrio
berkembang dari telur yang tidak dibuahi. Sedangkan pada artemia jenis
biseksual, populasinya terdiri dari jantan dan betina yang berkembang
melalui perkawinan dan embrio berkembang dari telur yang dibuahi.
B. Metode Penetasan Cystae Artemia
Sutaman (1993) mengatakan bahwa penetasan
cyste artemia dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu penetasan langsung
(non dekapsulasi) dan penetasan dengan cara dekapsulasi. Cara
dekapsulasi dilakukan dengan mengupas bagian luar kista menggunakan
larutan hipoklorit tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup embrio.
Cara dekapsulasi merupakan cara yang
tidak umum digunakan pada panti-panti benih, namun untuk meningkatkan
daya tetas dan meneghilangkan penyakit yang dibawa oleh cytae artemia
cara dekapsulasi lebih baik digunakan (Pramudjo dan Sofiati, 2004).
Subaidah dan Mulyadi (2004) memberikan penjelasan langkah-langkah penetasan dengan cara dekapsulasi, sebagai berikut:
- Cyste artemia dihidrasi dengan menggunakan air tawar selama 1-2 jam;
- Cyste disaring menggunakan plankton net 120 mikronm dan dicuci bersih;
- Cyste dicampur dengan larutan kaporit/klorin dengan dosis 1,5 ml per 1 gram cystae, kemudian diaduk hingga warna menjadi merah bata;
- Cyste segera disaring menggunakan plankton net 120 mikron dan dibilas menggunakan air tawar sampai bau klorin hilang, barulah siap untuk ditetaskan;
- Cyste akan menetas setelah 18-24 jam. Pemanenan dilakukan dengan cara mematikan aerasi untuk memisahkan cytae yang tidah menetas dengan naupli artemia.
Pramudjo dan Sofiati (2004) cystae hasil
dekapsulasi dapat segera digunakan (ditetaskan) atau disimpan dalam suhu
0 derajat celcius – (- 4 derajat celcius) dan digunakan sesuai
kebutuhan. Dalam kaitannya dengan proses penetasan Chumaidi et al (1990)
mengatakan kista setelah dimasukan ke dalam air laut (5-70 ppt) akan
mengalami hidrasi berbentuk bulat dan di dalamnya terjadi metabolisme
embrio yang aktif, sekitar 24 jam kemudian cangkang kista pecah dan
muncul embrio yang masih dibungkus dengan selaput. Pada saat ini panen
segera akan dilakukan.
Menurut Daulay (1993) cara melakukan
decapsulasi sebagai berikut: Telur direndam di air tawar dengan
perbandingan 12 ml air tawar untuk 1 gram cyste Artemia. Perendaman
dilakukan dalam tabung berbentuk corong yang bagian dasar bisa dibuka.
Maksud penggunaan tabung tersebut agar pembuangan air dapat dilakukan
dengan mudah tanpa mengganggu cyste. Sementara itu, pada bagian dasar
corong diberi aerasi. Setelah 1 jam suhu air diturunkan hingga 15°C,
dengan penambahan es. Setelah suhu turun baru ditambahkan NaHOCl 5,25%
sebanyak 10 ml untuk 1gram cyste. Setelah 15 menit, larutan NaHOCl
dibuang, kemudian cyste dicuci dengan air laut dan dibilas 6 – 10 kali
hingga pengaruh NaHOCl benar-benar hilang. Selama decapsulasi telur yang
semula berwarna coklat akan berubah menjadi putih, lalu kemudian
berubah lagi menjadi orange. Setelah decapsulasi, telur ini dapat
disimpan untuk ditetaskan, atau bisa langsung diberikan sebagai pakan
alami pada benih ikan dan atau larva udang.
Wadah penetasan Artemia dapat dilakukan
dengan wadah kaca, polyetilen (ember plastik)atau fiber glass. Ukuran
wadah dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari volume 1 liter
sampai dengan volume 1 ton bahkan 40 ton. Hal yang penting untuk
diperhatikan dalam penetasan Artemia adalah bentuk dari wadah. Bentuk
wadah penetasan Artemia sebaiknya bulat. Hal ini dikarenakan jika
diaerasi tidak ditemukan titik mati, yaitu suatu titik dimana Artemia
akan mengendap dan tidak teraduk secara merata. Artemia yang tidak
teraduk pada umumnya kurang baik derajat penetasannya, atau walaupun
menetas membutuhkan waktu yang lebih lama.
Sebelum diisi air dimedia penetasan,
wadah Artemia dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan sikat sampai
bersih. Agar sisa lemak atau lendir dapat dihilangkan, pada waktu
mencuci gunakanlah deterjen. Media untuk penetasan Artemia dapat
menggunakan air laut yang telah difilter. Hal ini ditujukan agar cyste
dari jamur atau parasit tersaring. Penyaringan dapat dilakukan dengan
menggunakan filter pasir atau filter yang dijual secara komersial
seperti catridge filter misalnya. Disamping dengan air laut, media
penetasan Artemia juga dapat dilakukan dengan menggunakan air laut
buatan. Air laut ini dibuat dengan jalan menambahkan garam yang tidak
beriodium ke air tawar. Garam yang digunakan harus bebas dari kotoran.
Jumlah Penetasan Artemia garam yang dibutuhkan berkisar antara 25-30
g/liter air tawar, sehingga memiliki kadar garam 25-30 ppt. Setelah
garam dimasukkan maka media harus diaerasi secara kuat agar garam
tercampur merata.
Bak fiber glass volume air 100 liter Galon air bekas volume 15 literGambar 4. Wadah penetasan Artemia untuk skala besar.
Penetasan kista Artemia adalah suatu
proses inkubasi kista Artemia di media penetasan (air laut ataupun air
laut buatan) sampai menetas. Proses penetasan terdiri dari beberapa
tahapan yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam.
- Proses penyerapan air
- Pemecahan dinding cyste oleh embrio
- Embrio terlihat jelas masih diselimuti membran
- Menetas dimana nauplius berenang bebas
BAB III
METODOLOGI
A. Waktu dan TempatPraktikum Penetasan Cyste Artemia Salina ini dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 14 Januari 2014 – Rabu,15 Januari 2014
Tempat : LAB Pembenihan Ikan SMK Negeri Jikumerasa
B. Alat dan Bahan
Alat : Bahan :
- Botol bekas volume 1,5 liter 2 buah
- Kayu
- Tali rafia
- Selang aerasi
- Batu aerasi
- Salinometer
- Gunting/cutter
- Plastic hitam
- Air Laut
- Larutan klorin
- Buat wadah penetasan artemia dengan menggunakan botol bekas sedemikian rupa sehingga wadah tidak bocor saat digunakan dengan menggunakan selang aerasi, gunting/cutter
- Buat dudukan botol dengan menggunakan kayu/bambu, gergaji dan tali rafia sehingga botol nantinya digantung dan dapat berdiri dengan baik dengan posisi terbalik
- Atur wadah dan aerasi sebelum digunakan, pastikan wadah dan aerasi dapat berfungsi dengan baik
- Media penetasan dengan air laut bersalinitas 35 ppt yang diukur terlebih dahulu dengan salinometer
- Masukkan media yang telah disiapkan kedalam wadah penetasan
Adapun metode pelaksanaan praktikum
penetasan artemia ini yaitu pertama persiapan alat dan bahan, kemudian
membuat wadah dan media penetasan artemia, melakukan metode penetasan,
dan melakukan pemanenan artemia. Dalam kegiatan penetasan cyste artemia
ini menggunakan 2 metode yaitu sebagai berikut :
1. Penetasan Cyste Artemia Metode non dekapsulasiAlat : Bahan :
- Timbangan digital
- Seser halus
- Wadah penetasan
- Plastic hitam
- Beaker glass
- Media penetasan (air laut)
- Cyste Artemia
- Timbang cyste artemia yang akan ditetaskan sebanyak 3 gram/liter
- Hitung kepadatan cyste artemia yang akan ditetaskan
- Hidrasi/rendam cyste artemia dengan air tawar dalam beaker glass selama 1-2 jam
- Saring artemia dengan plankton net/seser halus lalu masukkan kedalam wadah dan media penetasan yang telah disiapkan dengan aerasi kuat.
- Tutup wadah penetasan dengan menggunakan plastic hitam
- Amati dan catat perkembangan cyste artemia selama 6 jam
- Hitung derajat penetasan artemia
Alat : Bahan :
- Timbangan digital
- Seser halus
- Wadah penetasan
- Plastic hitam
- Beaker glass
- Media penetasan (air laut)
- Cyste Artemia
- Larutan Chlorin
- Timbang cyste artemia yang akan ditetaskan sebanyak 3 gram/liter
- Hitung kepadatan cyste artemia yang akan ditetaskan
- Hidrasi/rendam cyste artemia dengan air tawar dalam beaker glass selama 1-2 jam
- Saring artemia dengan plankton net/seser halus lalu masukkan kedalam beaker glass yang telah berisi larutan chlorine ± 20 ml, aerasi kuat, tunggu hingga 5-15 menit, amati dan catat perubahan yang terjadi coklat tua > abu-abu > orange
- Saring cyste artemia dengan menggunakan saringan halus, lalu bilas dengan air tawar hingga bau khlorin benar-benar hilang
- Masukkan cyste artemia kedalam wadah penetasan dengan aerasi kuat
- Tutup wadah penetasan dengan menggunakan plastic hitam
- Amati dan catat perkembangan cyste artemia selama 6 jam
- Hitung derajat penetasan artemia
Alat : Bahan :
- Seser halus/plastic net
- Wadah penetasan
- Plastic hitam
- Baskom/Beaker glass Media penetasan
- Artemia
- Buka plastic hitam penutup wadah penetasan dibagian bawah
- Amati artemia yang telah menetas dengan menggunakan senter
- Siapkan beaker glass sebagai wadah penampungan artemia yang akan dipanen, serta seser halus untuk menyaring artemia yang dipanen
- Buka aerasi dari bagian pangkal (dekat aerator) hingga selang aerasi mencapai seser halus untuk menyaring artemia yang dipanen
- Lakukan secara perlahan dan hati-hati, jangan sampai cangkang artemia ikut terbawa.
Parameter pengamatan yang akan diamati
dalam praktikum ini adalah Pengamatan perbedaan tahapan proses dalam
metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi dan Penghitungan Derajat
Penetasan atau Hatching Rate (HR) dari kista artemia sesuai dengan
masing-masing metode penetasan. Untuk mengetahui derajat penetasan
artemia maka dilakukan penghitungan telur artemia berdasarkan dari
jumlah cyste artemia yang ditetaskan dengan jumlah nauplius yang
dihasilkan. Metode yang dapat digunakan untuk mengetahui derajat
penetasan menurut gusrina (2008), yaitu dengan menggunakan rumus :
HR=N/C x100%
Dimana :HR = daya tetas
N = jumlah telur menetas
C = jumlah total telur yang ditetaskan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HasilDerajat Penetasan
Non Dekapsulasi
Sampel I : 318
II : 294
III : 349
320 x 100 = 320.000 ekor
HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%
320.000/545.100 X 100 %
= 58,72 %
Dekapsulasi
Hasil sampling : 125 Larva dalam 1 ml air = 125.000 ekor
HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%
=(125.000 ekor)/545.100 X100 %
= 22,93 %
B. Pembahasan
Adapun parameter yang akan dibahas oleh
penulis dalam kegiatan praktikum penetasan cyste artemia dengan metode
dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi ini antara lain adalah : Persiapan
wadah dan media penetasan, persiapan cyste artemia, penetasan cyste
artemia, pemanenan nauplius/larva artemia dan Menghitung derajat
penetasan (HR). Karena ini adalah bagian dari faktor-faktor berhasil
atau tidaknya penetasan cyste artemia.
Persiapan Wadah dan Media Penetasan
Wadah yang digunakan dalam praktikum
penetasan artemia ini berupa botol aqua dengan kapasitas 1,5 liter,
sebelum digunakan wadah ini dicuci, dan kemudian digantung pada dinding
serta diberi selang aerasi pada bagian permukaan wadah dengan tekanan
tinggi. Sebelum digunakan botol ini dicoba terlebih dahulu agar tidak
terjadi kebocoran pada saat penetasan (lihat gambar ). Botol aqua yang
digunakan sebanyak 2 buah yaitu untuk metode dekapsulasi dan tanpa
dekapsulasi.
Gambar 1. Wadah penetasan dari botol aqua volume 1,5 liter
Hal ini sejalan dengan apa yang
dikemukakan (gusrina 2008), wadah yang dapat digunakan dalam mengkultur
pakan alami artemia ada beberapa macam. Antara lain adalah kantong
plastic berbentuk kerucut, botol aqua, gallon air minum bekas, ember
plastic dan bentuk wadah lainnya yang didesain berbentuk kerucut pada
bagian bawahnya agar memudahkan pada saat pemanenan.
Setelah dipastikan kondisi wadah
penetasan telah berfungsi dengan baik, langkah selanjutnya adalah
pembuatan media penetasan. Salinitas pada media penetasan artemia ini
adalah salinitas 35 ppt dengan cara membuat air laut tiruan, air laut
ini dibuat dengan jalan menambahkan garam yang tidak beryodium ke dalam
air tawar sampai memiliki salinitas 35 ppt dengan pengecekan menggunakan
salinomoter. Setelah media penetasan dibuat, kemudian dimasukkan
kedalam botol aqua yang telah disiapkan sebanyak 1 liter/botol aqua dan
diaerasi secara kuat agar garam tercampur merata. Sedangkan munurut
(gusrina 2008), kista artemia dapat ditetaskan pada media yang mempunyai
salinitas 5-35 ppt, walaupun pada habitat aslinya dapat hidup pada
salinitas yang sangat tinggi.
Gambar 2. Pengecekan salinitas menggunakan salinomoter
Persiapan Kista Artemia
Kista artemia yang akan ditetaskan
sebelumnya ditimbang sesuai dengan dosis yang akan digunakan dengan
timbangan digital. Dalam praktikum ini menggunakan 3 gram cyste per
liter air media penetasan. Kemudian dilakukan perhitungan jumlah cyste
dengan metode sampling. Pada penetasan ini menggunakan 6 gram cyste
untuk masing-masing metode penetasan 3 gram cyste. sedangkan hasil
penghitungan sampling untuk 3 gram cyste didapat 545.100 butir cyste
artemia.
Gambar 3. Penimbangan dan penghitungan cyste artemia
Penetasan Cyste Artemia
Cyste artemia sebelum dimasukkan kedalam
wadah penetasan dengan metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi,
terlebih dahulu dihidrasi/direndam cyste artemia dengan air tawar ± 20
ml dalam beaker glass selama 2 jam serta diberi aerasi kuat untuk
melunakkan cyste artemia, hal ini tidak lain dengan tujuan untuk
mempercepat proses penetasan.
Gambar 4. Proses hidrasi/rendam cyste artemia dengan air tawar
Munurut (Gusrina 2008), dalam penetasan
cyste artemia ada 2 metode yang dapat digunakan yaitu metode dekapsulasi
dan metode tanpa dekapsulasi. Metode dekapsulasi adalah suatu cara
penetasan cyste artemia dengan melakukan proses penghilangan lapisan
luar cyste dengan menggunakan larutan hipokhlorit tanpa mempengaruhi
kelangsungan hidup embrio. Sedangkan metode penetasan tanpa dekapsulasi
adalah suatu cara penetasan artemia tanpa melakukan proses penghilangan
lapisan luar cyste tetapi secara langsung ditetaskan dalam wadah
penetasan.
Gambar 5. Penyaringan cyste artemia dengan plankton net
Setelah dihidrasi selama 2 jam, cyste
artemia ini kemudian disaring dengan plankton net/seser halus. Untuk
metode tanpa dekapsulasi cyste artemia ini langsung dimasukkan kedalam
wadah dan media yang telah disiapkan untuk proses penetasan. Sedangkan
penetasan dengan metode dekapsulasi setelah disaring, langkah
selanjutnya adalah cyste dimasukkan kedalam beaker glass yang telah
berisi larutan bayclin (khlorin) ukuran 20 ml, kemudian diaduk selama 5 –
15 menit hingga perubahan warna dari coklat tua > abu-abu >
menjadi oarange. Selanjutnya cyste segera disaring kembali menggunakan
plankton net 120 mikron dan dibilas menggunakan air tawar sampai bau
bayclin (khlorin) hilang, barulah siap dimasukkan kedalam wadah dan
media yang diberi aerasi kuat untuk ditetaskan. Wadah penetasan ini
dibungkus dengan menggunakan plastic hitam, dengan tujuan agar
memudahkan saat pengamatan dan pemanenan nauplius artemia.
Gambar 6. Metode dekapsulasi dengan larutan bayclin (khlorin)
- Proses penyerapan air
- Pemecahan dinding cyste oleh embrio
- Embrio terlihat jelas masih diselimuti membran
- Menetas dimana nauplius berenang bebas
- Pemanenan
Pada praktikum ini pemanenan segera
dilakukan pada esok hari setelah diyakini cyste artemia telah menetas,
hal ini dapat diketahui dengan cara selang aerasi dilepaskan dari wadah
penetasan, pembungkus plastic hitam di buka, kemudian menggunakan
senter. Nauplius artemia akan berenang menuju ke arah cahaya. Karena
bagian wadah (botol aqua) tranparan dan ditembus cahaya maka nauplius
Artemia akan berenang bebas dalam wadah penetasan. Oleh karena itu pada
saat pemanenan nauplius, sebaiknya bagian dasar wadah disinari lampu
dari arah samping agar nauplius berkumpul pada dasar wadah. Selain
nauplius, di dasar wadah juga akan terkumpul kista yang tidak menetas.
Sedangkan cangkang (kulit) cyste akan mengembang berada diatas
permuakaan air wadah penetasan.
Gambar 7. Wadah penetasan cyste artemia yang di bungkus dengan plastik hitam
Menghitung derajat penetasan (HR)
Penghitungan derajat penetasan dilakukan
bersamaan pada saat pemanenan berlangsung, penghitungan ini menggunakan
metode pengambilan sempel, mula-mula mengambil nauplius artemia dalam
wadah dengan menggunakan pipet/spuit ukuran 1 ml, kemudian disimpan
dalam piring untuk dilakukan penghitungan secara manual (kasat mata).
Untuk masing-masing wadah penetasan diambil tiga kali sempel,
selanjutnya dihitung rara-rata hasil sempel. Dari hasil penghitungan
sempel ini, maka di dapat hasil HR sebagai berikut :
1. Non Dekapsulasi = total nauplius 320.000 ekorHR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%
HR= 320.000/545.100 X 100 %
HR = 58,72 %
2. Dekapsulasi = total nauplius 125.000 ekor
HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%
=(125.000 ekor)/545.100 X100 %
= 22,93 %
Dari data tersebut dapat dilihat jumlah
cyste artemia yang menetas (Hatching rate) lebih besar pada perlakuan
non-dekapsulasi dibandingkan perlakuan dekapsulasi. Tujuan awal
dilakukan metode dekapsulasi adalah meningkatkatkan daya tetas cyste
artemia atau biasa disebut dengan peningkatan heacthing rate (hareta,
1997). Akan tetapi dari hasil praktikum ini bertolak belakang dengan
pernyataan tersebut, HR cyste artemia yang mendapat perlakuan
dekapsulasi jauh lebih rendah dibandingkan dengan cyste non-dekapsulasi.
Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranta : suhu,
aerasi, kepadan cyste, salinitas air, intensitas cahaya, kualitas cyste
artemia serta ketebalan lapisan klorin cyste. Sedangkan dalam praktikum
ini banyaknya cyste yang tidak menetas adalah akibat dari penanganan
pada saat cyste diberi chlorine, dimana yang seharusnya dimasukkan
kedalam beaker glas dan diaresai kuat hingga 5-15 menit, namun dalam
praktikum ini dengan cara pengadukan secara manual (diputar).
Hal ini yang mengakibatkan cyste artemia
pecah/mati karena dapat terjadi penggilasan cyste oleh alat pengaduk.
Selain itu karena terjadinya pemadaman listrik pada malam hari kurang
lebih 3-4 jam sehingga mengakibatkan aerasi tidak berfungsi, hal ini
dapat menyebabkan kurangnya oksigen terlarut dan tidak terjadinya
pengadukan media dalam wadah penetasan. Sehingga mengakibatkan banyak
cyste artemia tidak menetas.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Penetasan cyste artemia dengan metode
dekapsulasi lebih baik dibandingkan dengan non-dekapsulasi, namun dalam
praktikum ini mendapatkan hasil yang sebaliknya. Hal ini karena
diakibatkan oleh tidak ada kecermatan dalam prosedur proses perlakuan
dekapsulasi terutama tahap pemberian khlorin serta fasilatas penunjang
listrik yang terganggu. Dari hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa
dengan metode dekapsulasi dinyatakan tidak berhasil karena dibawah nilai
50 % dengan hasil presentase Hacthing Rate (HR) hanya 22,93 %. Sedangan
dengan metode non-dekapsulasi Hacthing Rate (HR) hasilnya adalah 58,72
%. Maka presentasi ini dapat dinyatakan berhasil melakukan penetasan
cyste artemia.
B. Saran
Saran yang dapat praktikan berikan adalah
harus adanya konsolidasi dari para praktikum dan dosen pembimbing
praktikum untuk mengikuti dan kecermatan dalam prosedur kerja agar
mendapatkan hasil yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Gusrina, (2008). Budidaya Ikan Jilid 1, 2 dan 3 untuk SMK. Jakarta :
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.Anonim, (2008). Artemia Pakan Alami Berkualitas untuk Ikan dan Udang. Diakses pada tanggal 03 Juli 2011 pada pukul 19.00 WIB. Situs :
http://mantauresearcher.blogspot.com/2008_01_01_archive.html.
Anonim, (2009). Pengaruh Perlakuan Dekapsulasi Dan Non-Dekapsulasi Terhadap Hatching Rate Artemia. Diakses tanggal 02 juni 2011 pada pukul 19.00 WIB. Situs :
http://ismail-jeunib.blogspot.com/2009/11/pakan-alami-artemia.html
http://defishes.xanga.com/715768618/kultur-pakan-alami-kpa/
http://my.opera.com/sampahbermanfaat/blog/show.dml/4450747

Tidak ada komentar:
Posting Komentar