Minggu, 06 April 2014

USAHA BUDIDAYA IKAN KOMET SMKN JIKUMERASA



Peluang Usaha Budidaya Ikan Komet

Ikan komet memiliki nama latin Carassius auratus-auratus. Ini merupakan jenis ikan hias yang diminati oleh banyak orang. Ikan komet memiliki bentuk yang hampir serupa dengan ikan koki dikarenakan kedua ikan tersebut berasal dari Cyprinidae familia. Namun, ikan komet memiliki bentuk yang berbeda dengan ikan-ikan lain pada umumnya yaitu sedikit memanjang dan tegak pipih. Mulutnya terletak di ujung dan mudah disembulkan. Giginya tersusun atas tiga gigi kerongkongan dan sebuah gigi geraham.

Seluruh tubuh ikan komet nyaris ditutupi oleh sisik. Sirip punggungnya terletak berseberangan dengan sirip perut. Ikan komet ini pertama kali dibudidayakan oleh masyarakat Cina pada tahun 1700an. Pembudidayaan ikan komet selanjutnya menyebar ke negeri matahari terbit, Jepang. Kondisi air untuk pemeliharaan ikan komet cepat menjadi kotor sehingga hal ini membuat ikan komet sangat rentan terhadap penyakit. Ikan ini memiliki keindahan warna, kelincahan gerak-gerik, serta keunikan bentuk tubuh.

Cara Budidaya dan Beternak Ikan Komet

Cara budidaya ikan komet pun dilakukan dengan cara khusus. Cara ternak ikan komet dilakukan dalam
akuarium dengan ukuran 60x60x60 cm. harus dipastikan bahwa akuarium yang digunakan adalah akuarium bersih yang telah dicuci dengan sabun serta dibilas dengan air. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan jamur serta bakteri sehingga akuarium yang digunakan untuk teknik budidaya ikan komet adalah akuarium yang steril dan tidak mengandung penyakit.
Setelah urusan dengan akuarium selesai, teknik beternak ikan komet selanjutnya adalah mengenai penentuan induk. Induk jantan dapat dikenali dari bintik-bintik bulat, menonjol, serta kasar pada bagian dadanya. Sedangkan pada induk betina, bintik-bintik juga terdapat pada bagian dada, namun terasa halus jika diraba. Untuk mengetahui apakah induk ikan komet sudah masak atau belum, maka dilakukan pemijatan. Apabila induk telah masak, maka akan keluar cairan yang berwarna putih pada induk jantan serta warna kuning bening pada induk betina.
 
Cara beternak berikutnya dilakukan melalui pemijahan. Pemijahan dilakukan dengan 2 induk komet betina serta 1 induk koi jantan. Semua induk tersebut dimasukkan dalam sebuah akuarium yang dilengkapi dengan tanaman enceng gondok yang berfungsi sebagai substrat. Pemijahan berlangsung semalam. Apabila berhasil, umumnya induk telah melekat pada tanaman enceng gondok. Setelah pemijahan, maka penetasan telur akan dilakukan dengan segera. Ikan komet tergolong ikan yang tidak memelihara telurnya sehingga telur yang menempel pada enceng gondok sebaiknya segera diangkat dari akuarium. Hal ini dimaksudkan agar telur tersebut tidak dimangsa oleh ikan komet. Telur akan menetas sesudah 2-3 hari dan menjadi larva. Larva ikan komet yang berusia 7 hari bersifat lemah. Larva memerlukan pakan dari luar untuk melindungi resiko kematian.

Pembenihan dan Pemberian Pakan Ikan Komet

Pembenihan adalah teknik memelihara ikan komet berikutnya. Wadah yang digunakan untuk pembibitan haruslah wadah yang telah dikeringkan di bawah sinar matahari selama 1-2 hari. Hal ini bertujuan untuk membunuh bibit-bibit parasit. Larutkan pupuk yang berasal dari kotoran ayam dengan air sampai larut. Setelah dua hari, bibit mulai ditanam dan dibiarkan selama lima hari agar tumbuh dan berkembang biak. Setelah 5 hari, larva komet dipindahkan ke wadah untuk pemeliharaan.
 Pakan tambahan diberikan setelah 15 hari pemeliharaan. Setelah genap 1 bulan, akan terlihat bentuk asli dari anak komet tersebut. Penyeleksian dilakukan dengan menentukan ikan komet yang memiliki bentuk sama dengan induknya. Ikan komet yang tidak sesuai dengan bentuk induknya bisa disingkirkan.

MENGENAL IKAN KOMET (Carrasius auratus)



IKAN KOMET (Carrasius auratus)

Ikan Komet (Carassius auratus) merupakan ikan hias yang banyak memiliki penggemar di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan seringnya diadakan kontes komet dengan peserta yang boleh dibilang sangat banyak. Jenis ikan dengan telur diserakkan, ini merupakan yang terbanyak. Ikan ini menempatkan telurnya di sembarang tempat, bisa di tanaman air atau di jatuhkan begitu saja di dasar perairan. Mengingat potensi alam Indonesia yang cukup air maka budidaya ikan Komet mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan. Beberapa jenis ikan hias air tawar telah berhasil dibudidayakan, salah satunya adalah ikan Komet (Carassius auratus) yang mempunyai banyak penggemar.

 Ikan komet (Carassius auratus) merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang populer di kalangan masyarakat, khususnya bagi pecinta ikan hias. Bukan hanya itu saja, sudah banyak yang berawal dari sekedar hobi kemudian mengkomersilkannya. Hal ini dikarenakan ikan komet memiliki warna yang indah dan eksotis serta bentuk dan gerakan yang menarik, dan dikenal sangat jinak karena dapat mudah hidup berdampingan dengan jenis ikan lain bila berada didalam satu tempat, karena sifatnya yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, ikan ini dapat dipelihara di hampir semua tempat di dunia asal saja tempatnya bersih dan sehat. Ikan komet merupakan salah satu jenis ikan hias yang populer saat ini, keunggulan ikan komet adalah pada warna yang terdapat pada ikan tersebut yang bermacam-macam seperti putih, kuning, merah, atau perpaduan lain dari warna-warna tersebut. Hal inilah yang membuat ikan komet memiliki nilai daya jual yang tinggi, sehingga banyak orang yang berusaha memperoleh keuntungan yang tinggi. Budidaya ikan hias ini tidak sulit, modalnya kecil dan seluruh anggota pun bisa dilibatkan, tidak membutuhkan lahan yang luas, modal utamanya justru keterampilan atau teknik budidaya yang harus terus ditingkatkan.

Klasifikasi Ikan Komet (Carassius auratus)
Ikan komet termasuk dalam famili Cyprinidae dalam genus Carassius. Ikan komet merupakan salah satu jenis dari Cypridae yang banyak dikenal dikalangan masyarakat karena memiliki warna yang indah dan eksotis serta bentuk yang menarik.
Kedudukan ikan komet di dalam sistematika menurut Goernaso (2005) adalah sebagai berikut :
  • Filum       : Chordata
  • Kelas       : Pisces
  • Sub kelas : Teleostei
  • Ordo        : Ostariphisysoidei
  • Sub ordo  : Cyprinoidea
  • Famili       : Cyprinidae
  • Genus       : Carassius
  • Spesies     : Carassius auratus
Biologi Ikan Komet
Kebiasaan hidup di alam Ikan Komet aslinya hidup di sungai, danau, dan lain lambat atau masih menggerakkan tubuh air di kedalaman sampai dengan 20 m. Di habitat aslinya ikan Komet tinggal di iklim subtropis dan lebih suka air tawar dengan pH 6,0-8,0, dengan kesadahan air sebesar 5,0 _ 19,0 DGH, dan rentang temperatur 32-106 F (0 – 41 C). Makanan ikan Komet terdiri dari krustasea, serangga, dan bahan tanaman. Ikan Komet bertelur pada vegetasi air. Hidup di sungai-sungai, danau, kolam dan saluran dengan air tergenang dan lambat mengalir. Pemakan termasuk tumbuhan, krustasea kecil, serangga, dan detritus. Ikan Komet hidup lebih baik dalam air dingin dan bertelur pada vegetasi terendam. Ikan Komet merupakan ikan euryhaline yang mampu hidup pada salinitas 17 ppt, tetapi tidak mampu bertahan lama pemaparan diatas 15 ppt (Anonim, 2009).

Reproduksi Ikan Komet
Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Menjelang memijah, induk-induk ikan mas aktif mencari tempat yang rimbun, seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan. (Gursina, 2008). Sifat telur ikan Komet adalah menempel pada substrat. Telur ikan Komet berbentuk bulat, berwarna bening, berdiameter 1,5-1,8 mm, dan berbobot 0,17-0,20 mg. Ukuran telur bervariasi, tergantung dari umur dan ukuran atau bobot induk. Embrio akan tumbuh di dalam telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa. Antara 2-3 hari kemudian, telur-telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva. Larva ikan Komet mempunyai kantong kuning telur yang berukuran relatif besar sebagai cadangan makanan bagi larva. Kantong kuning telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4 hari.
Larva ikan Komet bersifat menempel dan bergerak vertikal. Ukuran larva antara 0,50,6 mm dan bobotnya antara 18-20 mg. Larva berubah menjadi kebul (larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari. Pada stadia kebul ini, ikan Komet memerlukan pasokan makanan dari luar untuk menunjang kehidupannya. Pakan alami kebul terutama berasal dari zooplankton, seperti rotifera, moina, dan daphnia. Kebutuhan pakan alami untuk kebul dalam satu hari sekitar 60-70% dari bobotnya. Setelah 2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi burayak yang berukuran 1-3 cm dan bobotnya 0,1-0,5 gram. Antara 2-3 minggu kemudian burayak tumbuh menjadi putihan (benih yang siap untuk didederkan) yang berukuran 3-5 cm dan bobotnya 0,5-2,5 gram. Putihan tersebut akan tumbuh terus. Setelah tiga bulan berubah menjadi gelondongan yang bobot per ekornya sekitar 100 gram.

Siklus Hidup Ikan Komet
Siklus hidup ikan Komet dimulai dari perkembangan di dalam gonad (ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan yang menghasilkan sperma). Sebenarnya pemijahan ikan Komet dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak tergantung pada musim. Namun, di habitat aslinya, ikan Komet sering memijah pada awal musim hujan, karena adanya rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang air (Anonim, 2009).

Sabtu, 05 April 2014

TEKNIK PENETASAN CYSTE ARTEMIA DENGAN METODE DEKAPSULASI DAN NON DECAPSULASI

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Artemia merupakan pakan alami yang banyak digunakan dalam usaha pembenihan ikan dan udang, karena kandungan nutrisinya baik. Akan tetapi di perairan Indonesia tidak atau belum ditemukan Artemia, sehingga sampai saat ini Indonesia masih mengimpor Artemia sebanyak 50 ton/ tahun, dimana harganya dalam bentuk kista/ telur antara Rp 400.000 – 500.000/ kg (Suara Merdeka, 2002). Walaupun pakan buatan dalam berbagai jenis telah berhasil dikembangkan dan cukup tersedia untuk larva ikan dan udang, namun Artemia masih tetap merupakan bagian yang esensial sebagai pakan larva ikan dan udang diunit pembenihan. Keberhasilan pembenihan ikan bandeng, kakap dan kerapu juga memerlukaan ketersediaan Artemia sebagai pakan alami esensialnya, serta dengan adanya kenyataan bahwa kebutuhan Artemia untuk larva ikan kakap dan kerapu 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan larva udang, maka kebutuhan cyste Artemia pada tahun-tahun mendatang akan semakin meningkat (Raymakers dalam Yunus, dkk., 1994).
Secara umum terdapat dua alasan mengapa penggunaan pakan hidup alami sepertihalnya Artemia lebih mengutungkan dibandingkan pakan buatan (pellet, dll) dalam pemeliharaan larva-larva hewan air (ikan dan crustacean), yaitu : 1. Buruknya kualitas air mengakibatkan disintegrasi micropelet yang biasanya pemberian pakan tersebut cenderung berlebihan dengan tujuan pertumbuhan yang sempurna. 2. Tingginya tingkat mortalitas, mengakibatkan malnutrisi dan atau penyerapan komponen-komponen nutrisi pakan pellet yang tidak komplit(http://www.aquafauna.com/, 2004).
Cyste Artemia yang dibutuhkan sebagian besar masih diimpor, umumnya dari Amerika Serikat dan hanya sebagian dari China (Yap et.al. dalam Yunus, dkk., 1994). Tetapi kebanyakan cyste impor yang ada di Indonesia kualitasnya masih rendah. Sehingga menyebabkan produksi yang beragam dan kematian masal larva udang. Untuk itu ditempuh jalan untuk dapat membudidayakan Artemia di tambak secara lokal. Dari hasil budidaya Artemia secara lokal ini diperoleh beberapa keuntungan yaitu waktu transportasi dan penyimpanan lebih singkat, pengawasan kualitas pada proses produksi dan pengawasan terhadap pengelolaan lingkungan tambak budidaya mengarah pada produksi cyste Artemia lokal yang berkualitas dan aman. Lebih jauh lagi, produksi Artemia lokal dapat menunjang penghematan devisa melalui subtitusi impor.
Jenis pakan secara umum yang dapat dikonsumsi oleh ikan terdiri atas 2 jenis, yakni pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami adalah jasad-jasad hidup yang biasanya dari jenis plankton baik fito maupun zooplankton yang sengaja dibudidayakan untuk diberikan kepada ikan sesuai dengan kebutuhannya. Ketersediaan pakan alami merupakan faktor yang berperan penting dalam mata rantai budidaya ikan terutama pada fase benih. Kepentingan pakan alami sebagai sumber makanan ikan dapat dilihat antara lain:
  • nilai nutrisinya yang relatif tinggi,
  • mudah dibudidayakan,
  • memiliki ukuran yang relatif sesuai dengan bukaan mulut ikan terutama pada stadia benih,
  • memiliki pergerakan yang memberikan rangsangan pada ikan untuk memangsanya,
  • memiliki kemampuan berkembangbiak dengan cepat dalam waktu yang relative singkat, sehingga ketersediaannya dapat terjamin sepanjang waktu,
  • memerlukan biaya usaha yang relativ murah (Priyamboko, 2001).
Jenis pakan alami yang diberikan pada ikan seharusnya disesuaikan dengan stadia yang berhubungan dengan ukuran ikan. Dengan demikian maka akan terdapat klasifikasi jenis pakan alami yang diberikan.
Pakan alami sangat dibutuhkan dunia pembenihan karena pakan alami dapat bergerak aktif dan sehingga mengundang larva ikan untuk memakannya. Pada larva, setelah kuning telur habis perlu diberikan tambahan pakan supaya larva tetap mendapat asupan nutrisi. Masalah yang dihadapi adalah larva belum biasa mendapatkan pakan dan bukaan mulut larva masih sangat kecil. Gerakan yang dibuat pakan alami (contohnya : inforia, Dapnia, Artemia) akan merangsang larva memakannya dan ukurannya yang kecil cocok dengan bukaan mulut larva.
Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias. Ini terjadi karena Artemia memiliki nilai gizi yang tinggi, serta ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut hampir seluruh jenis larva ikan. Artemia dapat diterapkan di berbagai pembenihan ikan dan udang, baik itu air laut, payau maupun tawar.
B. TUJUAN
  1. Diharapkan dapat mengetahui cara-cara penetasan cyste artemia dengan metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi pada artemia sebelum dilakukan pengkulturan.
  1. Agar dapat mengetahui pengaruh perlakuan dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi terhadap tingkat penetasan kista artemia yang akan di kultur.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Biologi dan Daur Hidup Artemia
Klasifikasi
Artemia atau brine shrimp adalah sejenis udang-udangan primitive. Menurut Vos and De La Rosa dalam Sambali (1990); Sorgeloos dan Kulasekarapandian (1987); Cholik dan Daulay (1985); Tunsutapanich (1979), Artemia termasuk dalam:
Phylum     : Arthropoda
   Klass       : Crustacea
      Subklass  : Branchiopoda
         Ordo       : Anostraca
            Genus      : Artemia
               Spesies    : Artemia sp.
                 Famili       : Artemiidae
Oleh Linnaeus, pada tahun 1778, Artemia diberi nama Cancer salinus. Kemudian pada tahun 1819 diubah menjadi Artemia salina oleh Leach. Artemia salina terdapat di Inggris tapi spesies ini telah punah (Sorgeloos dan Kulasekarapandian, 1987).
Dalam perkembangan dewasa ini, secara taksonomis nama Artemia salina Leach sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa diantara kelompok-kelompok Artemia terdapat dinding pemisah perkawinan silang. Dua kelompok Artemia yang tidak dapat melakukan perkawinan silang dinamakan sibling spesies.
Untuk Artemia hingga saat ini telah ada 20 kelompok yang berkembang biak dengan kawin yang diklasifikasikan ke dalam beberapa sibling spesies. Disamping itu ada juga jenis Artemia yang berkembang biak tanpa kawin. Beberapa contoh jenis Artemia antara lain Artemia fransiscana, A. tunisana, A. urmiana, A. persimilis, A. monica, A. odessensis, sedangkan yang tanpa kawin Artemia partogenetica (Mudjiman, 1983). Untuk menghindari kebingungan dalam penamaan, maka Artemia dinamakan dengan Artemia sp. Saja.
Artemia merupakan dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias air tawar karena ukurannya yang sangat kecil. Disamping ukurannya yang kecil, nilai gizi Artemia juga sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan krustacea yang tumbuh dengan sangat cepat. saat Artemia pakan alami belum dapat digantikan oleh lainnya. Artemia biasanya diperjual belikan dalam bentuk kista/cyste, yang mudah dan praktis, karena hanya tinggal menetaskan kista saja. Dapat dilakukan oleh setiap orang. Sebab membutuhkan suatu keterampilan dan pengetahuan tentang penetasan itu sendiri. Kegagalan dalam menetaskan kista Artemia barakibat fatal terhadap larva ikan yang sedang dipelihara. Penetasan Artemia dapat dilakukan, baik pada skala kecil skala besar. Penetasan Artemia dikerjakan di daratan maupun di daerah pantai.

2.Morfologi
a. Telur
Telur Artemia atau cyste berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat (Cholik dan daulay, 1985). Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultraviolet dan mempermudah pengapungan (Mudjiman, 1983). Cangkang telur Artemia dibagi dalam dua bagian yaitu korion (bagian luar) dan kutikula embrionik (bagian dalam). Diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan ketiga yang dinamakan selaput kutikuler luar.
Korion dibagi lagi dalam dua bagian yaitu lapisan yang paling luar yang disebut lapisan peripheral (terdiri dari selaput luar dan selaput kortikal) dan lapisan alveolar yang berada di bawahnya. Kutikula embrionik dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu lapisan fibriosa dibagian atas dan selaput kutikuler dalam di bawahnya. Selaput ini merupakan selaput penetasan yang membungkus embrio. Diameter telur Artemia berkisar antara 200 – 300 μ (0.2-0.3 mm). Sedangkan berat kering berkisar 3.65 μg, yang terdiri dari 2.9 μg embrio dan 0.75 μg cangkang (Mudjiman, 1983).
b. Larva
Apabila telur-telur Artemia yang kering direndam dalam air laut dengan suhu 25oC, maka akan menetas dalam waktu 24 – 36 jam. Dari dalam cangkang akan keluar larva yang dikenal dengan nama nauplius, seperti yang terlihat pada gambar 1. dalam perkembangan selanjutnya nauplius akan mengalami 15 kali perubahan bentuk. Nauplius tingkat I = instar I, tingkat II = instar II, tingkat III = instar III, demikian seterusnya sampai instar XV. Setelah itu nauplius berubah menjadi Artemia dewasa, seperti yang terlihat pada gambar
Gambar 1. Nauplius dan perubahan bentuknya Gambar 2. Artemia dewasa
Gambar 3. Siklus hidup Artemia

3. Ekologi
Artemia sp. secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25-30 derajat celcius. Kista artemia kering tahan terhadap suhu -273 hingga 100 derajat celcius. Artemia dapat ditemui di danau dengan kadar garam tinggi, disebut dengan brain shrimp. Kultur biomasa artemia yang baik pada kadar garam 30-50 ppt. Untuk artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt (Kurniastuty dan Isnansetyo, 1995).

4. Reproduksi
Chumaidi et al., (1990) menyatakan bahwa perkembangbiakan artemia ada dua cara, yakni partenhogenesis dan biseksual. Pada artemia yang termasuk jenis parthenogenesis populasinya terdiri dari betina semua yang dapat membentuk telur dan embrio berkembang dari telur yang tidak dibuahi. Sedangkan pada artemia jenis biseksual, populasinya terdiri dari jantan dan betina yang berkembang melalui perkawinan dan embrio berkembang dari telur yang dibuahi.
B. Metode Penetasan Cystae Artemia
Sutaman (1993) mengatakan bahwa penetasan cyste artemia dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu penetasan langsung (non dekapsulasi) dan penetasan dengan cara dekapsulasi. Cara dekapsulasi dilakukan dengan mengupas bagian luar kista menggunakan larutan hipoklorit tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup embrio.
Cara dekapsulasi merupakan cara yang tidak umum digunakan pada panti-panti benih, namun untuk meningkatkan daya tetas dan meneghilangkan penyakit yang dibawa oleh cytae artemia cara dekapsulasi lebih baik digunakan (Pramudjo dan Sofiati, 2004).
Subaidah dan Mulyadi (2004) memberikan penjelasan langkah-langkah penetasan dengan cara dekapsulasi, sebagai berikut:
  • Cyste artemia dihidrasi dengan menggunakan air tawar selama 1-2 jam;
  • Cyste disaring menggunakan plankton net 120 mikronm dan dicuci bersih;
  • Cyste dicampur dengan larutan kaporit/klorin dengan dosis 1,5 ml per 1 gram cystae, kemudian diaduk hingga warna menjadi merah bata;
  • Cyste segera disaring menggunakan plankton net 120 mikron dan dibilas menggunakan air tawar sampai bau klorin hilang, barulah siap untuk ditetaskan;
  • Cyste akan menetas setelah 18-24 jam. Pemanenan dilakukan dengan cara mematikan aerasi untuk memisahkan cytae yang tidah menetas dengan naupli artemia.
Pramudjo dan Sofiati (2004) cystae hasil dekapsulasi dapat segera digunakan (ditetaskan) atau disimpan dalam suhu 0 derajat celcius – (- 4 derajat celcius) dan digunakan sesuai kebutuhan. Dalam kaitannya dengan proses penetasan Chumaidi et al (1990) mengatakan kista setelah dimasukan ke dalam air laut (5-70 ppt) akan mengalami hidrasi berbentuk bulat dan di dalamnya terjadi metabolisme embrio yang aktif, sekitar 24 jam kemudian cangkang kista pecah dan muncul embrio yang masih dibungkus dengan selaput. Pada saat ini panen segera akan dilakukan.
Menurut Daulay (1993) cara melakukan decapsulasi sebagai berikut: Telur direndam di air tawar dengan perbandingan 12 ml air tawar untuk 1 gram cyste Artemia. Perendaman dilakukan dalam tabung berbentuk corong yang bagian dasar bisa dibuka. Maksud penggunaan tabung tersebut agar pembuangan air dapat dilakukan dengan mudah tanpa mengganggu cyste. Sementara itu, pada bagian dasar corong diberi aerasi. Setelah 1 jam suhu air diturunkan hingga 15°C, dengan penambahan es. Setelah suhu turun baru ditambahkan NaHOCl 5,25% sebanyak 10 ml untuk 1gram cyste. Setelah 15 menit, larutan NaHOCl dibuang, kemudian cyste dicuci dengan air laut dan dibilas 6 – 10 kali hingga pengaruh NaHOCl benar-benar hilang. Selama decapsulasi telur yang semula berwarna coklat akan berubah menjadi putih, lalu kemudian berubah lagi menjadi orange. Setelah decapsulasi, telur ini dapat disimpan untuk ditetaskan, atau bisa langsung diberikan sebagai pakan alami pada benih ikan dan atau larva udang.
Wadah penetasan Artemia dapat dilakukan dengan wadah kaca, polyetilen (ember plastik)atau fiber glass. Ukuran wadah dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari volume 1 liter sampai dengan volume 1 ton bahkan 40 ton. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam penetasan Artemia adalah bentuk dari wadah. Bentuk wadah penetasan Artemia sebaiknya bulat. Hal ini dikarenakan jika diaerasi tidak ditemukan titik mati, yaitu suatu titik dimana Artemia akan mengendap dan tidak teraduk secara merata. Artemia yang tidak teraduk pada umumnya kurang baik derajat penetasannya, atau walaupun menetas membutuhkan waktu yang lebih lama.
Sebelum diisi air dimedia penetasan, wadah Artemia dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan sikat sampai bersih. Agar sisa lemak atau lendir dapat dihilangkan, pada waktu mencuci gunakanlah deterjen. Media untuk penetasan Artemia dapat menggunakan air laut yang telah difilter. Hal ini ditujukan agar cyste dari jamur atau parasit tersaring. Penyaringan dapat dilakukan dengan menggunakan filter pasir atau filter yang dijual secara komersial seperti catridge filter misalnya. Disamping dengan air laut, media penetasan Artemia juga dapat dilakukan dengan menggunakan air laut buatan. Air laut ini dibuat dengan jalan menambahkan garam yang tidak beriodium ke air tawar. Garam yang digunakan harus bebas dari kotoran. Jumlah Penetasan Artemia garam yang dibutuhkan berkisar antara 25-30 g/liter air tawar, sehingga memiliki kadar garam 25-30 ppt. Setelah garam dimasukkan maka media harus diaerasi secara kuat agar garam tercampur merata.
Bak fiber glass volume air 100 liter Galon air bekas volume 15 liter
Gambar 4. Wadah penetasan Artemia untuk skala besar.
Penetasan kista Artemia adalah suatu proses inkubasi kista Artemia di media penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas. Proses penetasan terdiri dari beberapa tahapan yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam.
  • Proses penyerapan air
  • Pemecahan dinding cyste oleh embrio
  • Embrio terlihat jelas masih diselimuti membran
  • Menetas dimana nauplius berenang bebas
BAB III

METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Penetasan Cyste Artemia Salina ini dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 14 Januari 2014 – Rabu,15 Januari 2014
Tempat : LAB Pembenihan Ikan SMK Negeri Jikumerasa

B. Alat dan Bahan
Alat : Bahan :
  • Botol bekas volume 1,5 liter 2 buah
  • Kayu
  • Tali rafia
  • Selang aerasi
  • Batu aerasi 
  • Salinometer
  • Gunting/cutter
  • Plastic hitam
  • Air Laut
  • Larutan klorin
Langka Kerja
  1. Buat wadah penetasan artemia dengan menggunakan botol bekas sedemikian rupa sehingga wadah tidak bocor saat digunakan dengan menggunakan selang aerasi, gunting/cutter
  2. Buat dudukan botol dengan menggunakan kayu/bambu, gergaji dan tali rafia sehingga botol nantinya digantung dan dapat berdiri dengan baik dengan posisi terbalik
  3. Atur wadah dan aerasi sebelum digunakan, pastikan wadah dan aerasi dapat berfungsi dengan baik
  4. Media penetasan dengan air laut bersalinitas 35 ppt yang diukur terlebih dahulu dengan salinometer
  5. Masukkan media yang telah disiapkan kedalam wadah penetasan
C. Metode Pelaksanaan
Adapun metode pelaksanaan praktikum penetasan artemia ini yaitu pertama persiapan alat dan bahan, kemudian membuat wadah dan media penetasan artemia, melakukan metode penetasan, dan melakukan pemanenan artemia. Dalam kegiatan penetasan cyste artemia ini menggunakan 2 metode yaitu sebagai berikut :
1. Penetasan Cyste Artemia Metode non dekapsulasi
    Alat : Bahan :
  • Timbangan digital
  • Seser halus
  • Wadah penetasan
  • Plastic hitam
  • Beaker glass
  • Media penetasan (air laut)
  • Cyste Artemia
Langka Kerja :
  1. Timbang cyste artemia yang akan ditetaskan sebanyak 3 gram/liter
  2. Hitung kepadatan cyste artemia yang akan ditetaskan
  3. Hidrasi/rendam cyste artemia dengan air tawar dalam beaker glass selama 1-2 jam
  4. Saring artemia dengan plankton net/seser halus lalu masukkan kedalam wadah dan media penetasan yang telah disiapkan dengan aerasi kuat.
  5. Tutup wadah penetasan dengan menggunakan plastic hitam
  6. Amati dan catat perkembangan cyste artemia selama 6 jam
  7. Hitung derajat penetasan artemia
2. Penetasan Cyste Artemia dengan Metode Dekapsulasi
Alat : Bahan :
  • Timbangan digital
  • Seser halus
  • Wadah penetasan
  • Plastic hitam
  • Beaker glass
  • Media penetasan (air laut)
  • Cyste Artemia
  • Larutan Chlorin
Langka Kerja :
  1. Timbang cyste artemia yang akan ditetaskan sebanyak 3 gram/liter
  2. Hitung kepadatan cyste artemia yang akan ditetaskan
  3. Hidrasi/rendam cyste artemia dengan air tawar dalam beaker glass selama 1-2 jam
  4. Saring artemia dengan plankton net/seser halus lalu masukkan kedalam beaker glass yang telah berisi larutan chlorine ± 20 ml, aerasi kuat, tunggu hingga 5-15 menit, amati dan catat perubahan yang terjadi coklat tua > abu-abu > orange
  5. Saring cyste artemia dengan menggunakan saringan halus, lalu bilas dengan air tawar hingga bau khlorin benar-benar hilang
  6. Masukkan cyste artemia kedalam wadah penetasan dengan aerasi kuat
  7. Tutup wadah penetasan dengan menggunakan plastic hitam
  8. Amati dan catat perkembangan cyste artemia selama 6 jam
  9. Hitung derajat penetasan artemia
3. Pemanenan Cyste Artemia
Alat : Bahan :
  • Seser halus/plastic net
  • Wadah penetasan
  • Plastic hitam
  • Baskom/Beaker glass Media penetasan
  • Artemia
Langka Kerja :
  1. Buka plastic hitam penutup wadah penetasan dibagian bawah
  2. Amati artemia yang telah menetas dengan menggunakan senter
  3. Siapkan beaker glass sebagai wadah penampungan artemia yang akan dipanen, serta seser halus untuk menyaring artemia yang dipanen
  4. Buka aerasi dari bagian pangkal (dekat aerator) hingga selang aerasi mencapai seser halus untuk menyaring artemia yang dipanen
  5. Lakukan secara perlahan dan hati-hati, jangan sampai cangkang artemia ikut terbawa.
D. Parameter Pengamatan
Parameter pengamatan yang akan diamati dalam praktikum ini adalah Pengamatan perbedaan tahapan proses dalam metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi dan Penghitungan Derajat Penetasan atau Hatching Rate (HR) dari kista artemia sesuai dengan masing-masing metode penetasan. Untuk mengetahui derajat penetasan artemia maka dilakukan penghitungan telur artemia berdasarkan dari jumlah cyste artemia yang ditetaskan dengan jumlah nauplius yang dihasilkan. Metode yang dapat digunakan untuk mengetahui derajat penetasan menurut gusrina (2008), yaitu dengan menggunakan rumus : 
HR=N/C x100%
Dimana :
HR = daya tetas
N   = jumlah telur menetas
C   = jumlah total telur yang ditetaskan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Derajat Penetasan
Non Dekapsulasi
Sampel I : 318
II : 294
III : 349
320 x 100 = 320.000 ekor
HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%
320.000/545.100 X 100 %
= 58,72 %
Dekapsulasi
Hasil sampling : 125 Larva dalam 1 ml air = 125.000 ekor
HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%
=(125.000 ekor)/545.100 X100 %
= 22,93 %

B. Pembahasan
Adapun parameter yang akan dibahas oleh penulis dalam kegiatan praktikum penetasan cyste artemia dengan metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi ini antara lain adalah : Persiapan wadah dan media penetasan, persiapan cyste artemia, penetasan cyste artemia, pemanenan nauplius/larva artemia dan Menghitung derajat penetasan (HR). Karena ini adalah bagian dari faktor-faktor berhasil atau tidaknya penetasan cyste artemia.

 Persiapan Wadah dan Media Penetasan
Wadah yang digunakan dalam praktikum penetasan artemia ini berupa botol aqua dengan kapasitas 1,5 liter, sebelum digunakan wadah ini dicuci, dan kemudian digantung pada dinding serta diberi selang aerasi pada bagian permukaan wadah dengan tekanan tinggi. Sebelum digunakan botol ini dicoba terlebih dahulu agar tidak terjadi kebocoran pada saat penetasan (lihat gambar ). Botol aqua yang digunakan sebanyak 2 buah yaitu untuk metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi.
 Gambar 1. Wadah penetasan dari botol aqua volume 1,5 liter
 Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan (gusrina 2008), wadah yang dapat digunakan dalam mengkultur pakan alami artemia ada beberapa macam. Antara lain adalah kantong plastic berbentuk kerucut, botol aqua, gallon air minum bekas, ember plastic dan bentuk wadah lainnya yang didesain berbentuk kerucut pada bagian bawahnya agar memudahkan pada saat pemanenan.
Setelah dipastikan kondisi wadah penetasan telah berfungsi dengan baik, langkah selanjutnya adalah pembuatan media penetasan. Salinitas pada media penetasan artemia ini adalah salinitas 35 ppt dengan cara membuat air laut tiruan, air laut ini dibuat dengan jalan menambahkan garam yang tidak beryodium ke dalam air tawar sampai memiliki salinitas 35 ppt dengan pengecekan menggunakan salinomoter. Setelah media penetasan dibuat, kemudian dimasukkan kedalam botol aqua yang telah disiapkan sebanyak 1 liter/botol aqua dan diaerasi secara kuat agar garam tercampur merata. Sedangkan munurut (gusrina 2008), kista artemia dapat ditetaskan pada media yang mempunyai salinitas 5-35 ppt, walaupun pada habitat aslinya dapat hidup pada salinitas yang sangat tinggi.
 Gambar 2. Pengecekan salinitas menggunakan salinomoter
Persiapan Kista Artemia
Kista artemia yang akan ditetaskan sebelumnya ditimbang sesuai dengan dosis yang akan digunakan dengan timbangan digital. Dalam praktikum ini menggunakan 3 gram cyste per liter air media penetasan. Kemudian dilakukan perhitungan jumlah cyste dengan metode sampling. Pada penetasan ini menggunakan 6 gram cyste untuk masing-masing metode penetasan 3 gram cyste. sedangkan hasil penghitungan sampling untuk 3 gram cyste didapat 545.100 butir cyste artemia.
Gambar 3. Penimbangan dan penghitungan cyste artemia
Penetasan Cyste Artemia
Cyste artemia sebelum dimasukkan kedalam wadah penetasan dengan metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi, terlebih dahulu dihidrasi/direndam cyste artemia dengan air tawar ± 20 ml dalam beaker glass selama 2 jam serta diberi aerasi kuat untuk melunakkan cyste artemia, hal ini tidak lain dengan tujuan untuk mempercepat proses penetasan.
Gambar 4. Proses hidrasi/rendam cyste artemia dengan air tawar
Munurut (Gusrina 2008), dalam penetasan cyste artemia ada 2 metode yang dapat digunakan yaitu metode dekapsulasi dan metode tanpa dekapsulasi. Metode dekapsulasi adalah suatu cara penetasan cyste artemia dengan melakukan proses penghilangan lapisan luar cyste dengan menggunakan larutan hipokhlorit tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup embrio. Sedangkan metode penetasan tanpa dekapsulasi adalah suatu cara penetasan artemia tanpa melakukan proses penghilangan lapisan luar cyste tetapi secara langsung ditetaskan dalam wadah penetasan.
 Gambar 5. Penyaringan cyste artemia dengan plankton net
Setelah dihidrasi selama 2 jam, cyste artemia ini kemudian disaring dengan plankton net/seser halus. Untuk metode tanpa dekapsulasi cyste artemia ini langsung dimasukkan kedalam wadah dan media yang telah disiapkan untuk proses penetasan. Sedangkan penetasan dengan metode dekapsulasi setelah disaring, langkah selanjutnya adalah cyste dimasukkan kedalam beaker glass yang telah berisi larutan bayclin (khlorin) ukuran 20 ml, kemudian diaduk selama 5 – 15 menit hingga perubahan warna dari coklat tua > abu-abu > menjadi oarange. Selanjutnya cyste segera disaring kembali menggunakan plankton net 120 mikron dan dibilas menggunakan air tawar sampai bau bayclin (khlorin) hilang, barulah siap dimasukkan kedalam wadah dan media yang diberi aerasi kuat untuk ditetaskan. Wadah penetasan ini dibungkus dengan menggunakan plastic hitam, dengan tujuan agar memudahkan saat pengamatan dan pemanenan nauplius artemia.
 Gambar 6. Metode dekapsulasi dengan larutan bayclin (khlorin)
Pada praktikum ini, cyste artemia dimasukkan kedalam wadah penetasan pada pukul 10.00 WIB dan penetasan cyste terjadi pada pagi harinya antara pukul 02.00-06.00 WIB. Penetasan kista Artemia adalah suatu proses inkubasi Cyste artemia di media penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas. Proses penetasan terdiri dari beberapa tahapan yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam.
  • Proses penyerapan air
  • Pemecahan dinding cyste oleh embrio
  • Embrio terlihat jelas masih diselimuti membran
  • Menetas dimana nauplius berenang bebas
  • Pemanenan
Pada praktikum ini pemanenan segera dilakukan pada esok hari setelah diyakini cyste artemia telah menetas, hal ini dapat diketahui dengan cara selang aerasi dilepaskan dari wadah penetasan, pembungkus plastic hitam di buka, kemudian menggunakan senter. Nauplius artemia akan berenang menuju ke arah cahaya. Karena bagian wadah (botol aqua) tranparan dan ditembus cahaya maka nauplius Artemia akan berenang bebas dalam wadah penetasan. Oleh karena itu pada saat pemanenan nauplius, sebaiknya bagian dasar wadah disinari lampu dari arah samping agar nauplius berkumpul pada dasar wadah. Selain nauplius, di dasar wadah juga akan terkumpul kista yang tidak menetas. Sedangkan cangkang (kulit) cyste akan mengembang berada diatas permuakaan air wadah penetasan.
  Gambar 7. Wadah penetasan cyste artemia yang di bungkus dengan plastik hitam
Menghitung derajat penetasan (HR)
Penghitungan derajat penetasan dilakukan bersamaan pada saat pemanenan berlangsung, penghitungan ini menggunakan metode pengambilan sempel, mula-mula mengambil nauplius artemia dalam wadah dengan menggunakan pipet/spuit ukuran 1 ml, kemudian disimpan dalam piring untuk dilakukan penghitungan secara manual (kasat mata). Untuk masing-masing wadah penetasan diambil tiga kali sempel, selanjutnya dihitung rara-rata hasil sempel. Dari hasil penghitungan sempel ini, maka di dapat hasil HR sebagai berikut :
1. Non Dekapsulasi = total nauplius 320.000 ekor
HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%
HR= 320.000/545.100 X 100 %
HR = 58,72 %
2. Dekapsulasi = total nauplius 125.000 ekor
HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%
=(125.000 ekor)/545.100 X100 %
= 22,93 %
Dari data tersebut dapat dilihat jumlah cyste artemia yang menetas (Hatching rate) lebih besar pada perlakuan non-dekapsulasi dibandingkan perlakuan dekapsulasi. Tujuan awal dilakukan metode dekapsulasi adalah meningkatkatkan daya tetas cyste artemia atau biasa disebut dengan peningkatan heacthing rate (hareta, 1997). Akan tetapi dari hasil praktikum ini bertolak belakang dengan pernyataan tersebut, HR cyste artemia yang mendapat perlakuan dekapsulasi jauh lebih rendah dibandingkan dengan cyste non-dekapsulasi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranta : suhu, aerasi, kepadan cyste, salinitas air, intensitas cahaya, kualitas cyste artemia serta ketebalan lapisan klorin cyste. Sedangkan dalam praktikum ini banyaknya cyste yang tidak menetas adalah akibat dari penanganan pada saat cyste diberi chlorine, dimana yang seharusnya dimasukkan kedalam beaker glas dan diaresai kuat hingga 5-15 menit, namun dalam praktikum ini dengan cara pengadukan secara manual (diputar).
Hal ini yang mengakibatkan cyste artemia pecah/mati karena dapat terjadi penggilasan cyste oleh alat pengaduk. Selain itu karena terjadinya pemadaman listrik pada malam hari kurang lebih 3-4 jam sehingga mengakibatkan aerasi tidak berfungsi, hal ini dapat menyebabkan kurangnya oksigen terlarut dan tidak terjadinya pengadukan media dalam wadah penetasan. Sehingga mengakibatkan banyak cyste artemia tidak menetas.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Penetasan cyste artemia dengan metode dekapsulasi lebih baik dibandingkan dengan non-dekapsulasi, namun dalam praktikum ini mendapatkan hasil yang sebaliknya. Hal ini karena diakibatkan oleh tidak ada kecermatan dalam prosedur proses perlakuan dekapsulasi terutama tahap pemberian khlorin serta fasilatas penunjang listrik yang terganggu. Dari hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa dengan metode dekapsulasi dinyatakan tidak berhasil karena dibawah nilai 50 % dengan hasil presentase Hacthing Rate (HR) hanya 22,93 %. Sedangan dengan metode non-dekapsulasi Hacthing Rate (HR) hasilnya adalah 58,72 %. Maka presentasi ini dapat dinyatakan berhasil melakukan penetasan cyste artemia.
B. Saran
Saran yang dapat praktikan berikan adalah harus adanya konsolidasi dari para praktikum dan dosen pembimbing praktikum untuk mengikuti dan kecermatan dalam prosedur kerja agar mendapatkan hasil yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Gusrina, (2008). Budidaya Ikan Jilid 1, 2 dan 3 untuk SMK. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.
Anonim, (2008). Artemia Pakan Alami Berkualitas untuk Ikan dan Udang. Diakses pada tanggal 03 Juli 2011 pada pukul 19.00 WIB. Situs :
http://mantauresearcher.blogspot.com/2008_01_01_archive.html.
Anonim, (2009). Pengaruh Perlakuan Dekapsulasi Dan Non-Dekapsulasi Terhadap Hatching Rate Artemia. Diakses tanggal 02 juni 2011 pada pukul 19.00 WIB. Situs :
http://ismail-jeunib.blogspot.com/2009/11/pakan-alami-artemia.html
http://defishes.xanga.com/715768618/kultur-pakan-alami-kpa/
http://my.opera.com/sampahbermanfaat/blog/show.dml/4450747